90. Hasan Ma’sum (wafat 1355 H.).
Nama lengkap beliau adalah Syeikh
Hasanuddin bin Syeikh Ma’sum, lahir di Labuhan Deli Sumatera, dalam tahun 1884
M. dan wafat di Medan 7 Januari 1937 M. (24 Syawal 1355 H) dalam usia 53 tahun
menurut hitungan tahun Masehi. Orang tuanya Syeikh Ma’sum adalah seorang ulama
terkenal pula, sebagai ulama tasauf. Nenek moyang beliau berasal dari Pasai
(Aceh) dan sudah jalan 7 turunan sampai kepada almarhum Syeikh Hasan Ma’sum ini
yang berada di Deli Sumatera Timur. Guru beliau yang pertama adalah bapak
beliau sendiri, tetapi setelah berusia 10 tahun beliau dikirim ke Mekkah al
Mukarramah untuk belajar ilmu agama, sampai 9 tahun belau di Mekkah.
Guru-guru beliau di Mekkah adalah
diantaranya Syeikh Abdussalam Kampar, Syeikh Ahmad Hayat (Arab), Syeikh Ahmad
Khatib Minangkabau seorang ulama yang termasyhur dan menjadi Imam dan Khatib
pada Madzthab Syafi’i di Mekkah dan kepada Syeikh Amin Ridwan di Madinah. Hal
ini terjadi sekitar tahun 1900 M. sampai 1903 M. (lk. 1320 H.). Setelah 9 tahun
di Mekkah beliau kembali ke kampungnya, yaitu di Labuhan Deli, tetapi 6 bulan
sesudah itu kembali ke Mekkah, karena belum merasa puas dalam yang dimilikinya.
Pada kali yang kedua ini beliau
tinggal 3 tahun di Mekkah. Dalam usia 23 tahun beliau kembali ke Indonesia dan
menikah. Setelah menikah beliau kembali lagi ke Mekkah, meneruskan mencari ilmu
agama yang tinggi-tinggi, khususnya ilmu fiqih madzhab Syafi’i. Pada kali yang
ketiga kembali lagi ke Indonesia, lantas diangkat menjadi Mufti dalam Madzhab
Syafi’i oleh Sulthan Ma’mun ar Rasyid yaitu Sulthan Deli yang mashur ketika
itu. Beliau banyak mengarang kitab Agama Islam, khususnya yang bertalian dengan
fiqih-fiqih Imam Syafi’i rahimahullah.
Boleh dikatakan hamper segenap
anggota pimpinan gerakan Al Jam’iyatul Washliyah di Medan, suatu organisasi
massa ummat Islam yang menjadi benteng Madzhab Syafi’i adalah berasal dari
murid beliau Syeikh Hasan Ma’shum ini. Di antara murid beliau adalah Alm.
Syeikh Abdurrahman Syihab, Ketua Umum Jami’atul Wasliyah. Beliau adalah tiang
tengah Madzhab Syafi’i di Sumatera Utara pada ketika itu.
91. Syeikh Muhammad Jamil Jaho
(wafat 1360 H.).
Syekh Muhammad Jamil Jaho lahir pada
tahun 1875 di Jaho, sebuah daerah kecil yang terletak di bukit Tambangan,
antara wilayah perbatasan Aceh, Padang Panjang, dan Tanah Datar, Sumatra Barat.
Daerahnya dikenal sejuk dan asri. Karenanya, namanya dikenal dengan Syekh Jamil
Jaho. Terkadang, namanya kerap dipanggil dengan sebutan Buya Jaho, Inyiak Jaho,
atau Angku Jaho. Ayahnya bergelar Datuk Garang yang berasal dari Negeri
Tambangan, Padang Panjang. Sang ayah pernah menjabat sebagai Qadhi Tambangan.
Sementara ibunya, Umbuik, adalah seorang perempuan yang disegani di
tengah-tengah masyarakat. Syekh Muhammad Jamil Jaho dibesarkan di tengah
keluarga yang kuat menjalankan tradisi dan agama. Masa kecilnya dihiasi dengan
nuansa religi yang sangat kental. Latar belakang keluarga yang alim inilah yang
membuatnya senantiasa haus akan ilmu agama. Ia menuntut ilmu agama kepada
ulama-ulama besar Minang di zaman itu. Beliau belajar Alquran dan kitab
perukunan (kitab-kitab berbahasa Melayu yang ditulis dengan huruf Arab) dari
ayahnya sendiri. Berkat kecerdasan dan kesungguhannya, pada usia 13 tahun, ia
telah hafal Alqur’an dan isi kitab perukunan.
Melihat kecerdasan dan kesungguhan
Muhammad Jamil, sang ayah lalu berinisiatif untuk mengajarinya kitab-kitab
kuning. Dalam waktu yang relatif singkat, Muhammad Jamil mampu mencerna maksud
yang terkandung dalam kitab kuning tersebut, dan cakap menguasai bahasa Arab,
baik secara lisan atau tulisan. Selepas menimba ilmu dari sang ayah, Muhammad
Jamil pun memutuskan pergi menuju halaqah atau majelis ilmu pesantren milik
Syeikh al-Jufri di Gunung Raja, Batu Putih, Padang Panjang. Selama belajar di
pangkuan Syeikh al-Jufri, Muhammad Jamil menunjukkan ketekunan dan
kecerdasannya sehingga ia pun menjadi murid kesayangan sang guru. Setelah
menyelesaikan belajar di pesantren Syeikh al-Jufri pada tahun 1893, Muhammad
Jamil melanjutkan pendidikannya ke seorang ulama fikih terkenal, Syeikh
al-Ayyubi di Tanjung Bungo, Padang Ganting. Di pesantren barunya inilah
Muhammad Jamil berteman akrab dengan Sulaiman ar-Rusuli, yang kelak menjadi
seorang ulama terkenal dari tanah Minang. Keduanya adalah santri yang pandai,
dan belajar dengan Syeikh al-Ayyubi selama enam tahun. Keduanya kemudian
melanjutkan mengaji ke Biaro Kota Tuo, yang pada masa itu merupakan tempat
berkumpulnya para ulama besar Minang.

Sumber
utama : Yulizal Yunus, Irhash A. Shamad, Muhammad Ilham (2008), republika
online, Masoed Abidin (2009). Foto (Syekh Muhammad Jamil Jaho - duduk
kedua dari kiri)
Pada tahun 1899, Muhammad Jamil dan
Sulaiman ar-Rasuli pindah mengaji ke Syeikh Abdullah Halaban, seorang ulama
Minang yang terkenal mahir dalam ilmu fikih dan ushul fikih. Di perguruan
Syeikh Halaban inilah Muhammad Jamil dipercaya untuk menjadi seorang pengajar
(ustadz) dan asisten pribadi Syeikh Halaban. Karenanya ia kerap dibawa serta ke
pengajian-pengajian keliling negeri Minang oleh gurunya ini. Di tahun 1908, ia
berkesempatan pergi ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji sekaligus menuntut
ilmu agama. Sebelum berangkat ke tanah suci, Muhammad Jamil dipersuntingkan
dengan gadis Tambangan yang bernama Saidah, yang kelak mengaruniai dua orang
puteri bernama Samsiyyah dan Syafiah. A Ginandjar Sya’ban sebagaimana mengutip
dari mukaddimah kitab Tadzkirah al-Qulub karangan Syeikh Jamil
Jaho mengungkapkan bahwa saat di Makkah, Muhammad Jamil berguru kepada Syeikh
Ahmad Khatib Minangkabau, seorang putera Minang yang menjadi imam, khatib
sekaligus mufti mazhab Syafi’i di Masjidil Haram. Di tanah suci ini beliau
bertemu dan belajar bersama Syeikh Abdul Karim Amrullah (ayahanda Buya Hamka).
Keduanya menjadi murid kesayangan Syeikh Ahmad Khatib, dan diberi kehormatan
untuk membimbing dan mengajar murid-murid yang lain.
Muhammad Jamil belajar di Makkah selama 10 tahun lamanya. Selama itu juga ia telah memperoleh tiga ijazah dari tiga orang ulama besar di Makkah pada zaman itu, yaitu Syeikh Ahmad Khatib Minangkabau (guru besar madzhab Syafi’i), Syeikh Alwi al-Maliki (guru besar madzhab Maliki), dan Syeikh Mukhtar al-Affani (guru besar madzhab Hanbali). Setelah bermukim 10 tahun lamanya di Makkah, ia memutuskan untuk kembali ke Padang Panjang. Sekembalinya dari tanah suci, Syeikh Jamil Jaho menjadi ulama terkenal dan disegani karena kedalaman ilmunya dan kesolehan pribadinya. Beliau mengajar di Jaho dan di beberapa daerah di Minangkabau.
Muhammad Jamil belajar di Makkah selama 10 tahun lamanya. Selama itu juga ia telah memperoleh tiga ijazah dari tiga orang ulama besar di Makkah pada zaman itu, yaitu Syeikh Ahmad Khatib Minangkabau (guru besar madzhab Syafi’i), Syeikh Alwi al-Maliki (guru besar madzhab Maliki), dan Syeikh Mukhtar al-Affani (guru besar madzhab Hanbali). Setelah bermukim 10 tahun lamanya di Makkah, ia memutuskan untuk kembali ke Padang Panjang. Sekembalinya dari tanah suci, Syeikh Jamil Jaho menjadi ulama terkenal dan disegani karena kedalaman ilmunya dan kesolehan pribadinya. Beliau mengajar di Jaho dan di beberapa daerah di Minangkabau.
Sepulangnya dari Mekkah, beliau
membuka Pondok Pesantren di Kampung Jaho Padang Panjang yang sampai sekarang
masih ada. Beliau adalah seorang Ulama Besar yang membangun Pesantren Tarbiyah
Islamiyah (PERTI) bersama-sama dengan kawan-kawan beliau. Syeikh Sulaiman Ar
Rasuli, Syeikh Abbas Qadhi, Syeikh Abdul Wahid Tabek Gadang dan lain-lain. Pada
Madrasah beliau Madrasah Tarbiyah Islamiyah Jaho diajarkan kitab-kitab fiqih
Syafi’i dari tingkat rendah sampai tingkat tinggi antarra lain kitab-kitab :
1. Matan Taqrib, karangan Abu Suja’.
2. Fathul Qarib, Syarah Alfazh at
Taqrib.
3. Fathul Muin, Syarah Fathul Qarib.
4. Al Mahalli, karangan Syeikh
Jalaluddin al Mahalli.
5. I’anatut Thalibin, karangan Sayid
Abi Bakar Syatha.
Semuanya adalah kitab Fiqih
Syafi’iyah yang dikarang oleh Ulama-ulama Syafi’i yang terkemuka.
Di Madrasah Tarbiyah Islamiyah
beliau tidak pernah mengajarkan kitab-kitab fiqih madzhab yang lain selain dari
Syafi’i. Tiap-tiap tahun Madrasah Tarbiyah Islamiyah Jaho Padang-Panjang,
mengeluarkan ulama-ulama Syafi’iyah tidak kurang dari 50 orang dan sekarang
mengajarkan fiqih Syafi’iyah di pelosok-pelosok tanah air di Indonesia.
Di kalangan ulama Minang pada masa
itu, Syeikh Jamil Jaho termasuk ulama yang berpaham pembaharu, namun menolak
pola ijtihad yang selama ini didengung-dengungkan, sekaligus bersikap menerima
taqlid kepada ulama-ulama terdahulu. Sebuah cara berpikir yang bertolak
belakang dengan trend berpikir yang digandrungi oleh ulama muda di masa itu.
Pada tahun 1922, bersama-sama Syeikh Sulaiman ar-Rasuli dan Syeikh Abdul Karim
Amrullah, beliau mendirikan Persatuan Ulama Minangkabau dan perguruan Islam
Thawalib. Di kampung halamannya Jaho, pada tahun 1924 ia mendirikan surau dan
membuka halaqah pengajian. Muridnya beragam yang datang. Ada dari Aceh, Jambi,
Sumatra Utara, dan Lampung. Halaqah yang didirikannya ini kelak berkembang
menjadi Madrasah Tarbiyah Islamiyah Jaho, setelah bergabung dengan Syeikh
Sulaiman ar-Rasuli. Menurut Akhria Nazwar dalam bukunya Syeikh Ahmad Khatib
(1983), kedua tokoh ini sepaham dalam menolak ijtihad dan menolak meninggalkan
taqlid pada ulama. Namun dalam soal tarekat keduanya berbeda paham.
Bersama-sama dengan Syeikh
ar-Rasuli, beliau mengembangkan Madrasah Tarbiyah Islamiyah ini menjadi sebuah
gerakan organisasi Islam dengan nama Persatuan Tarbiyah Islamiyah. Duet Syeikh
Muhammad Jamil Jaho dan Syeikh Sulaiman ar-Rusuli menjadi simbol utama ulama
tradisional pada masa itu. Di kalangan masyarakat Minang saat itu, Syeikh Jamil
Jaho dikenal memiliki sikap netral dalam menghadapi perbedaan pendapat antara
kaum tua dengan kaum muda soal pembaharuan Islam di Minangkabau. Pola
penyebaran dakwah yang beliau terapkan merupakan cara yang dipakai oleh Syeikh
Jamil Jambek, yakni dengan mendatangi kampung-kampung untuk menyampaikan
risalah Islam. Syeikh Muhammad Jamil Jaho mengikuti cara berpikir Syeikh Yusuf
Nabhani, yang dikenal anti kepada pemikiran Muhammad Abduh, Jamaluddin
al-Afghani dan Rasyid Ridha yang kala itu banyak diikuti oleh para ulama muda
di seluruh penjuru dunia Islam. Selain aktif mengajar dan berdakwah, semasa
hidupnya Syeikh Muhammad Jamil Jaho juga gemar menulis. Ulama Minang yang wafat
pada tahun 1360 H/1941 M ini banyak meninggalkan karya berharga yang menjadi
suluh ummat di kemudian hari. Karya-karyanya tersebut antara lain Tadzkiratul
Qulub fil Muraqabah ‘Allamul Ghuyub, Nujumul Hidayah, as-Syamsul Lami’ah, fil
‘Aqidah wa Diyanah, Hujjatul Balighah, al-Maqalah ar-Radhiyah, Kasyful Awsiyah.
Sosok ulama Minang yang satu ini juga dikenal sebagai orang yang memiliki peran
besar dalam kiprah Muhammadiyah di tanah Minangkabau.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar