Jumat, 14 November 2014

ULAMA ABAD KE 14- PART 3



Beliau adalah KH Muhammad Khalil bin Kiyai Haji Abdul Lathif bin Kiyai Hamim bin Kiyai Abdul Karim bin Kiyai Muharram bin Kiyai Asrar Karamah bin Kiyai Abdullah bin Sayid Sulaiman. Sayid Sulaiman adalah cucu Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati Cirebon. Syarif Hidayatullah itu putera Sultan Umdatuddin Umdatullah Abdullah yang memerintah di Cam (Campa). Ayahnya adalah Sayid Ali Nurul Alam bin Sayid Jamaluddin al-Kubra.
KH. Muhammad Kholil dilahirkan pada 11 Jamadil akhir 1235 Hijrah atau 27 Januari 1820 Masihi di Kampung Senenan, Desa Kemayoran, Kecamatan Bangkalan, Kabupaten Bangkalan, Pulau Madura, Jawa Timur. Beliau berasal dari keluarga Ulama dan digembleng langsung oleh ayah beliau. Menginjak dewasa beliau ta’lim diberbagai pondok pesantren. Sekitar 1850-an, ketika usianya menjelang tiga puluh, Kiyai Muhammad Khalil belajar kepada Kiyai Muhammad Nur di Pondok-pesantren Langitan, Tuban, Jawa Timur. Dari Langitan beliau pindah ke Pondok-pesantren Cangaan, Bangil, Pasuruan. Kemudian beliau pindah ke Pondok-pesantren Keboncandi. Selama belajar di pondok-pesantren ini beliau belajar pula kepada Kiyai Nur Hasan yang menetap di Sidogiri, 7 kilometer dari Keboncandi. Kiyai Nur Hasan ini, sesungguhnya, masih mempunyai pertalian keluarga dengannya. Sewaktu menjadi Santri KH Muhammad Kholil telah menghafal beberapa matan, seperti Matan Alfiyah Ibnu Malik (Tata Bahasa Arab). disamping itu juga beliau juga seorang hafiz al-Quran . Belia mampu membaca alqur’an dalam Qira’at Sab’ah (tujuh cara membaca al-Quran).
Pada 1276 Hijrah/1859 Masihi, KH. Muhammad Khalil Belajar di Mekah. Di Mekah KH Muhammad Khalil al-Maduri belajar dengan Syeikh Nawawi al-Bantani (Guru Ulama Indonesia dari Banten). Di antara gurunya di Mekah ialah Syeikh Utsman bin Hasan ad-Dimyathi, Saiyid Ahmad bin Zaini Dahlan, Syeikh Mustafa bin Muhammad al-Afifi al-Makki, Syeikh Abdul Hamid bin Mahmud asy-Syarwani i. Beberapa sanad hadis yang musalsal diterima dari Syeikh Nawawi al-Bantani dan Abdul Ghani bin Subuh bin Ismail al-Bimawi (Bima, Sumbawa). Kh. Muhammad Kholil Sewaktu Belajar di Mekkah Seangkatan dengan KH.Hasym Asy’ari, Kh.Wahab Hasbullah dan KH. Muhammad Dahlan. Namun Ulama-ulama dahulu punya kebiasaan Memanggil Guru sesama Rekannya, dan KH. Muhammad Kholil yang Dituakan dan dimuliakan diantara mereka.
Sewaktu berada di Mekah untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, KH. Muhammad Khalil bekerja mengambil upah sebagai penyalin kitab-kitab yang diperlukan oleh para pelajar. Diriwayatkan bahwa pada waktu itulah timbul ilham antara mereka bertiga, yaitu: Syeikh Nawawi al-Bantani, Kiyai Muhammad Khalil al-Maduri dan Syeikh Saleh as-Samarani (Semarang) menyusun kaedah penulisan huruf Pegon. Huruf Pegon ialah tulisan Arab yang digunakan untuk tulisan dalam bahasa Jawa, Madura dan Sunda. Huruf Pegon tidak ubahnya tulisan Melayu/Jawi yang digunakan untuk penulisan bahasa Melayu.
karena Kiyai Muhammad Khalil cukup lama belajar di beberapa pondok-pesantren di Jawa dan Mekah, maka sewaktu pulang dari Mekah, beliau terkenal sebagai ahli/pakar nahwu, fiqih, thariqat ilmu-ilmu lainnya. Untuk mengembangkan pengetahuan keislaman yang telah diperolehnya, Kiyai Muhammad Khalil selanjutnya mendirikan pondok-pesantren di Desa Cengkebuan, sekitar 1 kilometer arah Barat Laut dari desa kelahirannya. Kh. Muhammad Khalil al-Maduri adalah seorang ulama yang bertanggungjawab terhadap pertahanan, kekukuhan dan maju-mundurnya agama Islam dan bangsanya. Beliau sadar benar bahwa pada zamannya, bangsanya adalah dalam suasana terjajah oleh bangsa asing yang tidak seagama dengan yang dianutnya. Beliau dan keseluruhan suku bangsa Madura seratus peratus memeluk agama Islam, sedangkan bangsa Belanda, bangsa yang menjajah itu memeluk agama Kristian. Sesuai dengan keadaan beliau sewaktu pulang dari Mekah telah berumur lanjut, tentunya Kiyai Muhammad Khalil tidak melibatkan diri dalam medan perang, memberontak dengan senjata tetapi mengkaderkan pemuda di pondok pesantren yang diasaskannya. Kiyai Muhammad Khalil sendiri pernah ditahan oleh penjajah Belanda kerana dituduh melindungi beberapa orang yang terlibat melawan Belanda di pondok pesantrennya. beberapa tokoh ulama maupun tokoh-tokoh kebangsaana lainnya yang terlibat memperjuangkan kemerdekaan Indonesia tidak sedikit yang pernah mendapat pendidikan dari Kiyai Muhammad Khalil al-Maduri.
Kh.Ghozi menambahkan, dalam peristiwa 10 November, Mbah Kholil bersama kiai-kiai besar seperti Bisri Syansuri, Hasyim Asy’ari, Wahab Chasbullah dan Mbah Abas Buntet Cirebon, menge-rahkan semua kekuatan gaibnya untuk melawan tentara Sekutu. Hizib-hizib yang mereka miliki, dikerahkan semua untuk menghadapi lawan yang bersenjatakan lengkap dan modern. Sebutir kerikil atau jagung pun, di tangan kiai-kiai itu bisa difungsikan menjadi bom berdaya ledak besar. Tak ketinggalan, Mbah Kholil mengacau konsentrasi tentara Sekutu dengan mengerahkan pasukan lebah gaib piaraannya. Di saat ribuan ekor lebah menyerang, konsentrasi lawan buyar. Saat konsentrasi lawan buyar itulah, pejuang kita gantian menghantam lawan. ”Hasilnya terbukti, dengan peralatan sederhana, kita bisa mengusir tentara lawan yang senjatanya super modern. Tapi sayang, peran ulama yang mengerahkan kekuatan gaibnya itu, tak banyak dipublikasikan,” papar Kiai Ghozi, cucu KH Wahab Chasbullah ini.
Di antara sekian banyak murid KH. Muhammad Khalil al-Maduri yang cukup menonjol dalam sejarah perkembangan agama Islam dan bangsa Indonesia ialah Kh Hasyim Asy’ari (pendiri Pondok-pesantren Tebuireng, Jombang, dan pengasas Nahdhatul Ulama / NU) Kiyai Haji Abdul Wahhab Hasbullah (pendiri Pondok-pesantren Tambakberas, Jombang); Kiyai Haji Bisri Syansuri (pendiri Pondok-pesantren Denanyar); Kiyai Haji Ma’shum (pendiri Pondok-pesantren Lasem, Rembang, adalah ayahanda Kiyai Haji Ali Ma’shum), Kiyai Haji Bisri Mustofa (pendiri Pondok-pesantren Rembang); dan Kiyai Haji As’ad Syamsul `Arifin (pengasuh Pondok-pesantren Asembagus, Situbondo).
Beliau menjadi tokoh di balik berdirinya NU di Indonesia, lewat petunjuknyalah KH. Hasyim Asy’ari berangkat ke Hijaz dalam misi mempertahankan tradisi Islam tradisional yang dianggap benar dan mempertahankan makam Nabi Muhammad agar tidak digusur oleh orang Wahabi. Begitu juga saat Hasyim Asy’ari hendak mendirikan NU sebagai kelanjutan Komite Hijaz yang ia gagas, ia juga masih meminta restu Mbah Kholil (orang Bangkalan biasa menyebutnya).
Silsilah KH. Muhammad Kholil Al Maduri
Dikabarkan Syeikh Kholil merupakan keturunan dari Sunan Gunung Jati itu melalui jalur ibunya. Sedangkan menurut jalur keturunan laki” merupakan keturunan sunan Kudus, Jalur Sunan Kudus (Garis laki-laki)
1.
Syekh Muhammad Kholil Bangkalan.
2.
Kiai Abdul Lathif. Dimakamkan di Bangkalan.
3.
Kiai Hamim. Dimakamkan di Tanjung Porah, Lomaer, Bangkalan.
4.
Kiai Abdul Karim
5.
Kiai Muharram. Dimakamkan di Banyo Ajuh, Bangkalan.
6.
Kiai Abdul Azhim. Dimakamkan di Tambak Agung, Sukalela, Labeng, Bangkalan.
7.
Kiai Selase. Dimakamkan di Selase Petapan, Trageh, Bangkalan.
8.
Kiai Martalaksana. Dimakamkan di Banyu Buni, Gelis, Bangkalan.
9.
Kiai Badrul Budur. Dimakamkan di Rabesan, Dhuwwek Buter, Kuayar, Bangkalan.
10.
Kiai Abdur Rahman (Bhujuk Lek-palek). Dimakamkan di Kuanyar, Bangkalan.
11.
Kiai Khatib. Ada yang menulisnya “Ratib”. Dimakamkan di Pranggan, Sumenep.
12.
Sayyid Ahmad Baidhawi (Pangeran Ketandar Bangkal). Dimakamkan di Sumenep.
13.
Sayyid Shaleh (Panembahan Pakaos). Dimakamkan di Ampel Surabaya
14.
Sayyid Ja’far Shadiq (Sunan Kudus) Dimakamkan di Kudus.
15.
Sayyid Utsman Haji (Sunan Ngudung). Dimakamkan di Kudus.
16.
Sayyid Fadhal Ali Al-Murtadha (Raden Santri /Raja Pandita). Dimakamkan di Gresik.
17.
Sayyid Ibrahim (Asmoro). Dimakamkan di Tuban
18.
Sayyid Husain Jamaluddin Dimakamkan di Bugis.
19.
Sayyid Ahmad Syah Jalaluddin. Dimakamkan di Naseradab, India.
20.
Sayyid Abdullah. Dimakamkan di Naserabad, India.
21.
Sayyid Abdul Malik Azmatkhan. Dimakamkan di Naserabad, India.
22.
Sayyid Alawi ‘Ammil Faqih. Dimakamkan di Tarim, Hadramaut, Yaman.
23.
Sayyid Muhammad Shahib Mirbath. Dimakamkan di Zhifar, Hadramaut, Yaman.
24.
Sayyid Ali Khali’ Qasam. Dimakamkan di Tarim, Hadramaut, Yaman.
25.
Sayyid Alawi. Dimakamkan di Bait Jabir, Hadramaut, Yaman.
26.
Sayyid Muhammad. Dimakamkan di Bait Jabir, Hadramaut, Yaman.
27.
Sayyid Alawi. Dimakamkan di Sahal, Yaman.
28.
Sayyid Abdullah/Ubaidillah. Dimakamkan di Hadramaut, Yaman.
29.
Al-Imam Ahmad Al-Muhajir . Dimakamkan di Al-Husayyisah, Hadramaut, Yaman.
30.
Sayyid Isa An-Naqib. Dimakamkan di Bashrah, Iraq.
31.
Sayyid Muhammad An-Naqib. Dimakamkan di Bashrah, Iraq.
32.
Al-mam Ali Al-Uradhi. Dimakamkan di Al-Madinah Al-Munawwarah.
33.
Al-Imam Ja’far Ash-Shadiq. Dimakamkan di Al-Madinah Al-Munawwarah.
34.
Al-Imam Muhammad Al-Baqir. Dimakamkan di Al-Madinah Al-Munawwarah.
35.
Al-Imam Ali Zainal Abidin. Dimakamkan di Al-Madinah Al-Munawwarah.
36.
Sayyidina Husain bin Ali bin Abi Thalib. Dimakamkan di Karbala, Iraq.
37.
Sayyidatina Fathimah Az-Zahra’ binti Sayyidina Muhammad Rasulillah SAW. Dimakamkan di Madinah Al-Munawwarah
Maka, dari jalur Sunan Kudus, Syekh Kholil adalah generasi ke-37 dari Rasulullah SAW.
Jalur Sunan Ampel (garis perempuan)
1.
Syekh Muhammad Kholil Bangkalan.
2.
Kiai Abdul Lathif. Dimakamkan di Bangkalan.
3.
Kiai Hamim. Dimakamkan di Tanjung Porah, Lomaer, Bangkalan.
4.
Kiai Abdul Karim.
5.
Kiai Muharram. Dimakamkan di Banyo Ajuh, Bangkalan.
6.
Kiai Abdul Azhim. Dimakamkan di Tambak Agung, Sukalela, Labeng, Bangkalan.
7.
Nyai Tepi Sulasi (Istri Kiai Sulasi). Dimakamkan di Petapan, Trageh, Bangkalan.
8.
Nyai Komala. Dimakamkan di Kuanyar, Bangkalan.
9.
Sayyid Zainal Abidin (Sunan Cendana). Dimakamkan di Kuanyar, Bangkalan.
10.
Sayyid Muhammad Khathib (Raden Bandardayo). Dimakamkan di Sedayu Gresik.
11.
Sayyid Musa (Sunan Pakuan). Dimakamkan di Dekat Gunung Muria Kudus. Dalam sebagian catatan nama Musa ini tidak tertulis.
12.
Sayyid Qasim (Sunan Drajat). Dimakamkan di Drajat, Paciran Lamongan.
13.
Sayyid Ahmad Rahmatullah (Sunan Ampel). Dimakamkan di Ampel, Surabaya.
14.
Sayyid Ibrahim Asmoro Tuban. Disini nasab Nyai Sulasi dan Kiai Sulasi bertemu.
Maka, melalui jalur Sunan Ampel, Syekh Kholil adalah generasi ke-34 dari Rasulullah SAW.
Jalur Sunan Giri (garis perempuan)
1.
Syekh Muhammad Kholil Bangkalan.
2.
Kiai Abdul Lathif. Dimakamkan di Bangkalan.
3.
Kiai Hamim. Dimakamkan di Tanjung Porah, Lomaer, Bangkalan.
4.
Kiai Abdul Karim.
5.
Kiai Muharram. Dimakamkan di Banyo Ajuh, Bangkalan.
6.
Kiai Abdul Azhim. Dimakamkan di Tambak Agung, Sukalela, Labeng, Bangkalan.
7.
Nyai Tepi Sulasi (Istri Kiai Sulasi). Dimakamkan di Petapan, Trageh, Bangkalan.
8.
Nyai Komala. Dimakamkan di Kuanyar, Bangkalan.
9.
Sayyid Zainal Abidin (Sunan Cendana). Dimakamkan di Kuanyar, Bangkalan.
10.
Nyai Gede Kedaton (istri Sayyid Muhammad Khathib). Dimakamkan di Giri, Gresik.
11.
Ali Khairul Fatihi / Panembahan Kulon. Dimakamkan di Giri, Gresik.
12.
Sayyid Muhammad Ainul Yaqin (Sunan Giri). Dimakamkan di Giri, Gresik.
13.
Maulana Ishaq. Dimakamkan di Pasai.
14.
Sayyid Ibrahim Asmoro Tuban. Disini nasab Nyai Gede Kedaton dan Sayyid Muhammad Khathib bertemu.
Maka, melalui jalur Sunan Giri, Syekh Kholil adalah generasi ke-34 dari Rasulullah SAW.
Jalur Sunan Gunung Jati (garis perepuan)
1.
Syekh Muhammad Kholil Bangkalan.
2.
Kiai Abdul Lathif. Dimakamkan di Bangkalan.
3.
Nyai Khadijah (Istri Kiai Hamim). Dimakamkan di Bangkalan.
4.
Kiai Asror Karomah.
5.
Sayyid Abdullah.
6.
Sayyid Ali Al-Akba
7.
Syarifah Khadijah.
8.
Maulana Hasanuddin Dimakamkan di Banten.
9.
Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati). Dimakamkan di Cirebon.
10.
Sayyid Abdullah Umdatuddin.
11.
Sayyid Ali Nuruddin/Nurul Alam.
12.
Sayyid Husain Jamaluddin Bugis. Disini nasab Nyai Khadijah dan Kiai Hamim Kholil bertemu.
Maka, melalui jalur Sunan Gunung Jati, Syekh Kholil adalah generasi ke-32 dari Rasulullah SAW.
Jalur Basyaiban (garis perempuan)
1.
Syekh Muhammad Kholil Bangkalan.
2.
Kiai Abdul Lathif. Dimakamkan di Bangkalan.
3.
Nyai Khadijah (Istri Kiai Hamim). Dimakamkan di Bangkalan.
4.
Kiai Asror Karomah.
5.
Sayyid Abdullah.
6.
Sayyid Ali Al-Akbar.
7.
Sayyid Sulaiman. Dimakamkan di Mojo Agung, Jombang.
8.
Sayyid Abdurrahman (Suami Syarifah Khadijah binti Hasanuddin).
9.
Sayyid Umar.
10.
Sayyid Muhammad.
11.
Sayyid Abdul Wahhab.
12.
Sayyid Abu Bakar Basyaiban.
13.
Sayyid Muhammad.
14.
Sayyid Hasan At-Turabi.
15.
Sayyid Ali.
16.
Al-Imam Muhammad Al-Faqih Al-Muqaddam.
17.
Sayyid Ali.
18.
Sayyid Muhammad Shahib Mirbat. Disini nasab keluarga Azmatkhan dan Basyaiban bertemu.
Maka, melalui jalur Sayyid Abdurrahman Basyaiban, Syekh Kholil adalah generasi ke-32 dari Rasulullah SAW.
KH. Muhammad Khalil al-Maduri, wafat dalam usia yang lanjut 106 tahun, pada 29 Ramadan 1341 Hijrah/14 Mei 1923 Masihi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar