Wafatnya ayahanda al-Habib Umar
Beliau wafat setelah delapan hari tiba di
desa al-Huraidzah. Al-Habib Umar sibuk mempersiapkan perawatan jenazah ayah
beliau, kemudian beliau menyuruh pembantunya Mahmud an-Najar untuk memilih
kubur bagi ayahnya. Ketika Mahmud masuk di perkuburan al-Huraidzah, maka ia
dapatkan ada sebuah tanah yang disinari seberkas cahaya langit, maka di tempat
itulah al-Habib Abdul Rahman dikuburkan.
Al-Habib Umar rajin berziarah ke makam
ayahnya, bahkan tidak seharipun beliau pernah melupakannya. Pada suatu hari
al-Habib Umar berkata: “Ketika aku tidak berziarah ke makam ayahku selama
beberapa hari, maka aku lihat ayahku dalam mimpiku amat murka kepadaku kerana
aku tidak menziarahi beliau selama beberapa hari, aku lihat jasad beliau
menjadi besar, sehingga aku sulit untuk berjabat tangan dengan beliau
dikeranakan tingginya jasad beliau”.
Hubungan erat antara al-Habib Umar dengan Syeikh Abdullah bin Ahmad al-Afif
Hubungan erat antara al-Habib Umar dengan Syeikh Abdullah bin Ahmad al-Afif
Dulu sebelum al-Habib Umar tiba di desa
al-Huraidzah, maka penduduknya sangat berkeyakinan kepada kewalian para sesepuh
al-Masyaikh dari keluarga al-Afif. Pada suatu hari, penduduknya minta kepada
Syeikh Abdullah bin Ahmad al-Afif, seorang wali dan sholeh yang terkemuka,
untuk memohonkan air hujan bagi penduduk desa Huraidzah. Kemudian mereka keluar
menuju ke suatu kubur wali, kebetulan pada saat itu al-Habib Umar masih baru di
desa itu dan masih belum dikenal orang, sehingga penduduknya tidak memberitahu
kepada beliau untuk berdoa bersama dengan mereka dan merekapun tidak
memberitahu kepada Syeikh Abdullah al-Afif tersebut tentang keberadaan al-Habib
Umar, sampai setelah mereka melakukan doa bersama untuk memohon air hujan, lalu
terdapat pembicaraan sekitar keberadaan al-Habib Umar, maka Syeikh Abdullah
berkata kepada mereka: “Mengapa kalian tidak memberitahukan aku tentang
keberadaan al-Habib Umar, mungkin doa kalian tidak akan diterima dan air hujan
tidak akan turun”. Kemudian Syeikh Abdullah segera meninggalkan tempat itu,
kemudian mendatangi Habib Umar untuk mohon maaf. Kata al-Habib Umar: “Wahai
Syeikh Abdullah, desa ini adalah desa kalian dan aku di desa ini hanya orang
asing yang baru datang”. Kata Syeikh Abdullah: “Bukan demikian wahai tuanku,
bahkan desa ini adalah milikmu dan aku tidak mempunyai hak apapun setelah tuan
ada di sini”.
Al-Habib Isa bin Muhammad al-Habsyi berkata:
“Memang, al-Habib Umar mempunyai hubungan yang erat dengan Syeikh Abdullah bin
Ahmad al-Afif. Dan Syeikh Abdullah pernah berkata kepada beliau: “Memang,
Huraidzah adalah desa kami, akan tetapi kami serahkan kepada kamu”. Disebutkan
bahawa Syeikh Abdullah pernah minta pakaian (Libas) dari al-Habib Umar, maka
kata beliau: “Besarnya rasa cintamu, hal itu sudah cukup”.
Dalam
juz kedua di dalam buku Taajul A’raas disebutkan, bahwa al-Habib Ahmad binl
Hassan al-Attas pernah menyebutkan tentang kisah Syeikh Abdullah bin Ahmad
al-Afif: “Di desa Huraidzah, Syeikh Abdullah al-Afif mempunyai sebuah kebun
kurma, ketika al-Habib Umar tiba di desa itu, maka Syeikh Abdullah bernazar
untuk memberikan kebun kurma itu kepada al-Habib Umar. Ketika hal itu
diutarakan kepada al-Habib Umar, maka beliau berkata kepada penduduk Huraidzah:
“Wahai penduduk, bagaimanakah pendapat kalian tentang nazar Syeikh Abdullah?”
Jawab penduduk Huraidzah: “Menurut kami, nazar Syeikh Abdullah adalah benar”.
Jawab Habib Umar: “Kalau begitu, tanah ini aku terima tetapi aku hadiahkan
kembali bagi kalian semua sebagai nazar dari aku, maka terimalah tanah itu dari
aku”. Ada seorang di antara mereka yang berkata kepada beliau: “Mengapakah
engkau tidak memberikannya kepada keluargamu?” Kata al-Habib Umar: “Kelak anak
cucuku akan memiliki desa ini semuanya”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar